Selasa, 24 April 2012

Analisis cerpen Seorang Ayah Dan Anak Gadisnya Kumpulan cerpen Jujur Pramanto


TUGAS

Analisis cerpen Seorang Ayah Dan Anak Gadisnya
Kumpulan cerpen Jujur Pramanto

Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Apresiasi Sastra
Dosen Pengampu Adyana Sunanda














Disusun Oleh :
DIYAN SAFITRI
A310080143
                       
                                   
PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2010
BAB 1
PENDAHULUAN

  1. LATARBELAKANG
                  Sastra merupakan hasil cipta atau karya manusia yang dapat dituangkan melalui ekspresi yang berupa tulisan yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya.
Selain itu sastra juga merupakan hasil karya seseorang yang diekspresikan melalaui tulisan yang indah,sehingga karya yang dinikmati mempunyai nilai estetis dan dapat menarik para pembaca untuk menikmatinya. Karya-karya yang indah ini dalam sastra berupa cerpen, puisi, novel dan drama.. Karya-karya yang menarik itu dapat mempengaruhi jiwa para pembaca sehingga dapat menyelami dan seolah-olah hadir dalam cerita tersebut.


  1. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas terdapat satu masalah yang perlu dikaji dalam penelitian ini, yaitu bagaimana menganalisis cerpen yang berjudul Seorang Ayah dan Anak Gadisnya karya jujur pramanto?

  1. TUJUAN
Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis cerpen “Seorang Ayah dan Anak Gadisnya” karya Jujur Pramanto dengan metode analisis struktural dan alalisis makna.








BAB 2
PEMBAHASAN

  1. SINOPSIS
      Seorang anak kecil yang bernama putty yang lahir ditengah-tengah keluarga kecil yang bahagia. Sartono ayah putty yang mempunyai sifat penyabar. Pada saat itu putty selalu saja menangis, dan sartono pun tak bisa menafsirkan makna dari tangisan putty yang bertanda haus atau cuma kegerahan. Sejak putty dilatih mendengar namanya sendiri, ”Putih Melati. Pu-tih Me-la-ti.”
Putty menirunya dengan suara keras, dan Nadia yaitu ibu putty segera memberi asi kepada putty. Sartono tahu itu tak mungkin  tapi dokter sudah mengatakan, dan itu tidak apa-apa.
      Putih melati tak lagi menangis, tapi ibunya  menahan sakit karena gigitan anaknya yang sia-sia mengharapkan air susu. Tak seisap pun. Tak setetespun. Lalu lebih banyak airmata yang jatuh. Sartono tak pernah mutlak memahami apa tangis istrinya itu, sebab segala sesuatu cepat tenggelam dalam suasana kerja suasana sehari-hari yang menghebat. Toh, secara pelan tapi pasti putih melati tumbuh dan mekar, ia tak lagi Cuma bisa menangis dan tertawa tapi juga menangis dan menertawai. Tak Cuma menjerit-jerit tapi juga menjerit-jeritkan sesuatu.
      Dan jeritan itu masih tersisa sampai kini, knalpot mobilnya yang sangaja dirusak agar suara meraung-raung. Langkah kakinya yang menghentak-hentak, memencet bel yang tak pernah kurang dari empat kali.
Sartono melangkah keruang depan. ’masuk! Tidak dikunci.’
Seorang gadis remaja lima belas tahun berkulit kuning, tinggi badan seratus enam puluh limaan, berambut tebal agak pirang. Bercelana jins biru kedodoran, t-strit mungil warna pink berleher lebar lengan pendek. Menghambur kedalam begitu ia menguakkan pintu.
Putty menenggak kopi di meja. ”Ada acara gladi-resik show tari buat besok. Pakai kostum lengkap, sekaligus tes make-up. Kalau make-up tanpa lipstik sama aja bohong,kata putty. Sudah ada sebulan., butik langganan mama ulang tahun. Mereka harga obral. Mama membelikan celana  dengan harga tiga puluh ribuan.
Putty menyuruh ayahnya untuk menonton  di TIM pukul delapan mala. Dan putty pun membelikan karcis kusus buat papanya.
Dan, yang membuat suasana agak senang adalah seonggok bakmi goreng, didepan putty. Sartono sendiri mengambil rokok, menyulut dan mengisapnya pelan, memperhatikan anaknya yang makan dengan lahap. Kalsau seperti ini putty nampak terbebas dari segala pakaian yang mengurungnya. Kembali seperti putty yang bocah, yang rasanya tak terlalu peduli lipstik dibibirnya akan luntur oleh suapan minyak goreng.
      Ini pula yang embedakan ia dengan ibunya. Nadia kelewat anggun, tertatih semenjak kecil untuk selalu menampilkan keanggunan seorang penari. Menari bagio dia bukan Cuma digedung berkesian, tapi bahkan tiap jengkal ia berada adalah bagian dari panggung. Melangkah menuruni anak tangga adalah menari, jemari memutar nomor-nomor telepon adalah menari, samapai pada mengangkat sendok dan garpu , semuanya menjadi tarian-tarian yang tak berkeputusan.
      Lalu santoso hadir sebagai pengagum tari. Pengagum setia tapi juga yang sadr kemudian bahwa pernik-pernik kehidupan rumah tangga tak semuanya bisa diubah jadi tarian indag. Ada realitas baru setelah itu, yamg tak seelok panggung pentas seni. Ada kesenjangan disana, yang selama ini kabur oleh kekaguman –kekaguman membuai. Dan perasaan bahagia, rupanya, tak harus berangkat dari kekaguman atas sesuatu seperti yang dirsakan sartono kini melihat perilaku anaknya yang boleh jadi kurang beraturan.
”Ada apa, Pa, ngiatin putty?”
Sartono tersenyum, lalu mengalihkan pembicaraan. ”Kenapa tidak kamu bikin saja acara di TIM itu sebagai karangan?
Kemarin dulu kamu bilang ada tugas mengarang buat minggu depan, bingung mencari bahan,”
      Tanggal 20 oktober ada festifal kreasi Renaja di TIM. TIM-nya di Graha Bhakti Budaya. One-O-One Alfa kasih tunjuk kemampuan juga. Sambutannya meriah. Saya berangkat dari rumah jam lima sore, Mama sudah berangkat duluan karena panitia. Tidak diantara papaBurhan karena sudah lama tidak pulang. Ke TIM rame-rame naik kombinya Alma. Serulah pokoknya! Seragam kita paling geboy. Kena lampu makin gemerlap. Grup-grup lain pada ngeper liat kita.
Saya mengajak papa ikut nonton. Saya menelpon papa jam setengah delapan, tapi papa tidak ada. Saya menunggu terus tapi papa tidak nongol-nongol! Papa brengsek.
”bahasamu lebih brengsek! Lihat, sambutanyya meriah. Saya berangkat dari rumah... mana yang terjadi lebih dahulu? Mama sudah berangkat dahuluan karena panitia. Panitia ini memperlakukan mama bagaimana, sampai-sampai mama Panitia ini memperlakukan mama bagaimana, sampai-sampai mama berangkat duluan?” ”maksudnya mama mesti pergi duluan , datang lebih awal karena mama termasuk salah satu panitia penyelenggaraan festival ini.
Suatau saat sartono dan putty nonton bioskop bareng, hingga malam tak satupun yang keluar juga taj mungkin tertelan dalam lenyap begitu saja. Tinggal hati dan pikiran yang riuh berfikir, tercermin diwajahnya yang menegang. Lalau corolla 72 warna coklat itu menyusuri jalan jakarta dealam diam, suara kaset-kaset Cuma samar.
Banyak yang berubah, jadinya sering lupa hari. Papa mengajar ditrisakti biasanya jum’at. Jadi ini serasa malam sabtu.
Tiba-tiba sartono bertanya kepada putty ”cowok kamu mama?”
Putty menjawab ”inikan sedang pacaran.” lalu begitu saja putty menyandarkan badan dipaha bapaknya.
”cowok kamu mana ? berli aytau siapa yang makai mobil putih itu?”
Putty menjawab,,nggak tau.”
Kalau yang pakai kijang hijau itu candra, teman main biasa. Kalau yamh ku bilang raksasa dulu? Donald. Payah. Cemburuan. Badan gede kelakuan nol.
Putty mengubah duduknya bersila menghadap kedepan. Dan putty secara sengaja bertanya kepada sartono ayahnya,”kenapa papa sendiri tidak pacaran?”
      Sartono menengok kesamping, kali ini tanpa tawa. Memandang sesaat wajah ayahnya. Cuma sesaat. Tapi yang sesaat ini cukup membuatnya tercekat. Putty sekarang bukan lagi Putih Melati dua tiga tahun yang lalu. Bukan si sableng yang mengatakan serius pa?, hanya akan mengatakan bahwa para guru benar-benar rapat dan ia pulang awal bukan karena membolos (padahal memang membolos!), atau untuk mengatakan putty pusing sekali,,( padahal hanya ingin menghindari pelajaran sejarah!”). Bukan pula putty manja yang yang menjadi benar-benar serius hanya bilang menstruasinyaendatangkan rasa sakit dan merasa dirinya celaka oleh kewanitaannya.
Putty bertanya,kenapa pa?”
      Begitu tajam pertanyaan itu. Begitu menuntut. Putih Melati bukan Cuma serius, tapi telah mrenjadi lebih dewasa. Mungkin juga menloncat menjadi dewasa. Namun paling tidak dengan akan gadisnya sartono harus memberikan jawaban yang paling jujr, sesederhana apapun.
Sartono menjawab,”papa tidak punya pacar.”
”papa tidak kepingin nikah lagi”
”ya, tapi nanti.”
”nanti kapan pa?”
Kelihatannya mama mau cerai sama papa burhan. Setelah urusan pengadilan selesai, mama mau pindah keamerika.
Kali ini sartono terpaksa membelokkan mobuilnya kejalur lambat dan merambat tak lebih dari tiga puluh kilo meter perjam. Memberi kesempatan paru-parunya menghirup udara sedalam-dalamnya.
      Jakarta dimalam minggu tergambar pada jalannya yang riuh, tapi tidak tergesa-gesa. Bis kota- bis kota seperti biasanya penuh, mengangkut orang-orang yang berdandan agak istimewa. Wajah- wajah kuyu diusiang hari berganti dengan muka berkeringatanak-anak kecil yang melongok-longok keluar jendela. Berebut tempat dengan saudaranya .
Putty menggeleng lremah, sartono menarik napas panjang. Lalu denga segan ia mencari tempat pemutaran. Membelokkan mobilnya kekanan, berhenti sesaat tapi,,
Kerumah siapa?
Tak ada jawaban. Balasan sorot lampu mobil dari arah lawan kelewat menyilaukan hingga sartono tak bisa jelas melihat wajah putty. Juga tak bisa menyaksikan setetes air mata yang jatuh membasahi wajah murungnya.



  1. ANALISIS
a.      ANALISIS STRUKTURAL
Analisis dari segi struktur cerpen “Nasihat – Nasihat” meliputi tema, penokohan, alur, latar, sudut pandang, gaya bahasa, dan amanat.
1.      TEMA
mengisahkan tentang kehidupan seorang Ayah yang mempunyai seorang anak gadis yang mempunyai kesengan menari. Tapi dengan adanya masalah diantara Ayah dan Ibu gadis itu, Gadis itu dituntun untuk lebih dewasa dalam mengarungi kehidupan.
2.      LATAR/SETTING
setting dalam cerita ini adalah
a.       rumah
Disini diceritakan bahwa putty lahir ditengah-tengah keluarga kecil.
b.      gedung Grha Bhakti Budaya
disini diceritakan bahwa gedung Grha Bhakti Budaya adalah tempas putty mempertunjukkan tariannya.
c.       kota jakarta
tempat putty dan sartono (Ayah Putty) menghabiskan malam minggu berdua.
3.      PENOKOHAN
·         ayah (Sartono)
seorang laki-laki yang mengasuh anak perempuannya yang bernama putty. Dan ia bekerja sebagai pengajar di Trisakti
·         Putih Melati (putty)
Seorang anak gadis yang mempunyai kesengan menari, mengikuti bakat ibunya yang suka menari. Seorang gadis remaja yang bergaya seperti orang dewasa karena situasi yang menuntutnya harus bersikap dewasa.
·         Nadia (ibu putty)
Seorang ibu yang pekerjaannya sebagai penari, dan ia hidup denga suami keduanya yaitu Burhan. Tapi suatu saat ia pun bercerai dengan Burhan.
4.      ALUR
Alur dalam cerpen berjudul Seorang Ayah Dan Anak Gadisnya ini menggunakan alur lurus. Karena cerita ini berawal dari seorang Ayah yang sangat menyayangi anak gadisnya, dan membesarkan anaknya sendiri karena sudah bercerai dengan istrinya. Setelah anaknya (putty) beranjak dewasa akhirnya ia pun mengerti akan masalh yang dihadapi oleh kedua orangtuanya. Tapi putty bisa menyikapinya dengan dewasa.  
5.      SUDUT PANDANG
Dalam cerpen ini pengarang menggunakan sudut pandang orang ketiga, karena pengarang menceritakan tentang kehidupan orang lain dengan berbagai konflik atau problem yang ada pada masing-masing tokohnya. Hal ini telah terbukti dengan penggunaaan tokoh Ayah, Putty, dan Nadya (Ibu putty).
6.      GAYA BAHASA
Gaya bahasa yang ada pada cerpen Ayah Dan Anak Gadisnya ini menggunakan beberapa majas, contonya pada kalimat ”Bis kota- bis kota seperti biasanya penuh, mengangkut orang-orang yang berdandan agak istimewa” dalam kalimat tersebut jelas menggunakan majas personifikasi. Dan selain itu dalam cerpen ini juga menggunakan bahasa yang menarik
7.      AMANAT
dalam cerita cerpen tersebut mengandung pesan dan amanat yang disampaikan melalui para tokoh-tokohnya.
a.       Tokoh ayah
Dalam cerpen ini ayah memberikan pesan yaitu sebagai seseorang harus tegar dalam menghadapi persoalan. Meskipun hidup serba susah tapi demi seseorang yang sangat kita cintai harus tetap diperjuangkan.
b.      Putty
Dalam cerpen ini Putty memberikan pesan yaitu bahwa sebagai seseorang harus bisa lebih dewasa dalam menyikapi suatu masalah.
c.       Nadya (Ibu Putty)
Dalam cerpen ini Nadya memberikan pesan  yaitu bila meninggalkan seseorang janganlah melupakannya. Karena tanpa kita sadari ternyata orang tersenut sangat berarti dalam hidup kita.
  1. DARI SEGI ANALISIS MAKNA
KESIMPULAN
Analisis makna yang digunakan untuk mengidentifikasi cerpen berjudul Seorang Ayah Dan Anak Gadisnya menggunakan pendekatan psikologis. Dikarenakan faktor psikologis disini lebih kental. Seorang ayah dan anak gadisnya menggambarkan tentang kehidupan sebuah keluarga kecil yang sederhana yang pada suatu saat harus mempunyai problem pada keluarganya dan akhirnya terjadi perbedaan diantara mereka.
Sartono adalah seorang ayah yang baik, ia mendidik anaknya dari kecil hingga dewasa dengan penuh kasih sayang. Tokoh sartono pada cerita ini adalah sebagai seorang laki-laki yang hidup bersama seorang anak gadisnya yang bernama putih melati. Karena didikannya putih melatipun menjadi seorang anak dewasa yang mempunyai bakat menari yang hebat. Sartono yang melihat tumbuh kembang anak gadisnya dari mulai anaknya kecil sampai bisa berdandan. Seorang yang bertanggung jawab tapi ketiaka sartono memperhatikan anaknya, ia tersipu karena belum seharusnya anaknya seperti itu, hanya karena keadaan putty harus bersikap lebih dewasa. Ketika suatu saat putty bertanya kepada Ayahnya, ”kenapa Papa gak pacaran lag?” . pada saat itu putty merasa bahwa hidupnya kurang sempurna. Dan ia menuntut kepada ayahnya untuk segera mempunyai seorang pendampin.
Pada cerita cerpen Seorang Ayah dan Anak Gadisnya ini, si Anak sebenarnya sangat tretakan akan situasi disekitanya, ia mempunyai ayah yang baik muda dan pintar tapi ia masih merasa kurang. Dan ibunya yaitu Nadia, ibunya hidup sendiri dengan ayah tirinya yang bernama Burhan. Dan ia pun tidak terlalu dekat dengan ibunya. Dan pada suatau saat ibunya akan bercerai lagi dengan suami keduanya tersebut. Itu membuat putty menjadi lebih tretekan. Dan ketika ayahnya mengajak jalan-jalan putty . saat itu pula sartono sadar bahwa putty sangatlah merasa kekurangan kasih sayang.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar