Selasa, 24 April 2012

ANALISIS CERPEN NASIHAT – NASIHAT DARI KUMPULAN CERPEN ROBOHNYA SURAU KAMI KARYA A. A. NAFIS


ANALISIS CERPEN NASIHAT – NASIHAT DARI KUMPULAN
CERPEN ROBOHNYA SURAU KAMI
KARYA A. A. NAFIS

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengkajian Fiksi
Dosen Pengampu : Dr. Ali Imran Al Ma’ruf, M.Hum.












Disusun oleh :
Diyan Safitri                           A310080143
Ratna Ebti Rachmawati                      A310080153
Eprilia Kartika Sari                 A310080154
Eva Rahayu                             A310080167
Dewi Nafianti                         A310080178


PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2010
1.      ANALISIS CERPEN DARI SEGI STRUKTUR DAN MAKNA DENGAN TEORI SEMIOTIK
Studi semiotik sastra adalah usaha untuk menganalisis sebuah sistem tanda-tanda dan karena itu menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai arti. Menurut Endraswara (2008a: 64) struktural semiotik muncul sebagai akibat ketidakpuasan terhadap kajian struktural yang hanya menitikberatkan pada aspek intrinsik, semiotik memandang karya sastra memiliki sistem sendiri. Karena itu, muncul kajian struktural semiotik untuk mengkaji aspek-aspek struktur dengan tanda-tanda.
Dalam analisis ini menggunakan objek sebuah cerpen karya A.A. Nafis yang berjudul Nasehat-Nasehat. Dalam cerpen ini diceritakan ada seorang anak muda bernama Hasibuan yang meminta nasehat dari orang tua ketika ingin menemui seorang gadis yang ia cintai namun sang orang tua melarang Hasibuan menemuinya karena orang tua itu bilang si gadis ini tidak baik untuknya. Padahal nasehat orang tua itu tidak benar.

2.   ANALISIS CERPEN DARI SEGI PSIKOLOGI SASTRA
Psikologi dan sastra berhubungan erat, sering kali tokoh-tokoh, situasi serta plot yang terbentuk dalam novel atau drama sesuai dengan keberadaan psikologi, karena pengarang kadang-kadang menggunakan teori psikologi dalam melukiskan tokoh serta lingkungan (Wellek, Rene dan Austin Werren, 1990:106).
Pendekatan psikologi adalah pendekatan yang bertolak dari asumsi bahwa karya sastra selalu saja membahas tentang peristiwa kehidupan manusia. Manusia senantiasa memperhatikan perilaku yang beragam. Bila ingin melihat dan mengenal manusia lebih dalam dan lebih jauh diperlukan psikologi. Di zaman kemajuan teknologi seperti sekarang ini manusia mengalami konflik kejiwaan yang bemula dari sikap kejiwaan tertentu bermuara pula ke permasalahan kejiwaan (Semi, 1990:76).
Tokoh Hasibuan dalam cerpen tersebut menggambarkan sifat suka menolong yang tergambar ketika ia mau menolong gadis desa itu, sifat perhatian yang digambarkan saat ia melihat gadis itu menangis, dan tidak mudah menyerah untuk mencari tahu kebenaran, namun disatu sisi pendirian dirinya masih suka goyah karena nasehat – nasehat yang diutaraka orang tua.
Tokoh orang tua dalam cerpen tersebut  menggambarkan sebuah sifat yang merasa dirinya sangat pintar dalam memberi nasehat dan semua nasehatnya dianggap benar karena menurut dirinya beliau sudah tua dan sudah banyak makan garam. Sehingga menjadikan beliau sombong. Tokoh gadis yang ditemui Hasibuna dalam bis dalam cerpen tersebut merupakan tokoh pembantu atau orang ketiga. Disini ia berperan untuk membantu jalannya cerita.

3.   ANALISIS CERPEN DARI SEGI SOSIOLOGI SASTRA
Sosiologi sebagai studi yang ilmiah dan objektif mengenai manusia dalam masyarakat, studi mengenai lembaga-lembaga dan proses-proses sosial. Oleh karenanya sosiologi berusaha menjawab pertanyaan mengenai masyarakat dimungkinkan, bagaimana cara kerjanya dan mengapa masyarakat itu bertahan hidup. Gambaran ini akan menjelaskan cara-cara manusia menyesuaiakan diri dengan ditentukan oleh masyarakat-masyarakat tertentu, gambaran mengenai mekanisme sosialisasi, proses belajar secara kultural, yang dengannya individu-individu dialokasikan pada dan menerima peranan-peranan tertentu dalam strutur sosial. Di samping itu sosiologi juga menyangkut mengani perubahan-perubahan sosial yang terjadi secara berangsur-angsur maupun secara revolusioner dengan akibat-akibat yang ditimbulkan oleh perubahan tersebut (Damono, 1978).
Dalam analisa cerpen ini yang menunjukan segi sosiolgi yaitu dimana cerpen ini menggambarkan kondisi dan situasi latar yaitu di negeri Minangkabau yang beradat, jika hilang bercerai, jika tenggelam diselami.tak akan biarkan anak gadis yang sebesar itu pergi begitu saja. Di sini Minangkabau, Hasibuan. Minangkabau Hasibuan. Minangkabau yang adatnya tinggi. Tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan. Tidak terpikirkan olehmu sampai sekian jauh?.

4.   KAJIAN INTERTEKS SASTRA
Nurgiyantoro (1992:50) mengatakan bahwa kajian intertekstual merupakan terhadap sejumlah teks sastra yang diduga mempunyai bentuk-bentuk hubungan tertentu. Mengacu pendapat Nurgiyantoro tersebut, dapat dikatakan bahwa kajian intertekstual mencakup sastra bandingan, yaitu studi hubungan antara dua kesusastraan atau lebih (Wellek dan Warren, 1990 :49). Teeuw (1988:145) menegaskan prinsip interteks berarti setiap teks sastra dibaca dan harus dibaca dengan latar belakang teks-teks lain. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa teks sastra tidak berdiri sendiri. Teks sastra merupakan bentukan dari teks yang lain. Ada jalinan antara teks yang satu dengan teks yang lain.
Dalam cerpen “Nasihat- nasihat ” ini terdapat tiga tokoh yaitu Hasibua, Orang tua, dan gadis yang di temui Hasbuuan dalam bis.
Tokoh orang tua dalam cerpen tersebut  menggambarkan sebuah sifat yang merasa dirinya sangat pintar dalam memberi nasehat dan semua nasehatnya dianggap benar karena menurut dirinya beliau sudah tua dan sudah banyak makan garam. Sehingga menjadikan beliau sombong.
Tokoh Hasibuan dalam cerpen tersebut menggambarkan sifat suka menolong yang tergambar ketika ia mau menolong gadis desa itu, sifat perhatian yang digambarkan saat ia melihat gadis itu menangis, dan tidak mudah menyerah untuk mencari tahu kebenaran, namun disatu sisi pendirian dirinya masih suka goyah karena nasehat – nasehat yang diutaraka orang tua.
Tokoh gadis yang ditemui Hasibuna dalam bis dalam cerpen tersebut merupakan tokoh pembantu atau orang ketiga. Disini ia berperan untuk membantu jalannya cerita.

5.   KAJIAN FEMINISME SASTRA
Dalam pengertian yang paling luas, feminisme adalah gerakan kaum wanita untuk menolak segala sesuatu yang dimarjinalisasikan, disubordinasikan, dan direndahkan oleh kebudayaan dominan, baik dalam bidang politik dan ekonomi maupun kehidupan sosial lainnya. Dalam pengertian yang lebih sempit, yaitu dalam sastra, feminisme dikaitkan dengan cara-cara memahami karya sastra baik dalam kaitannya dengan proses produksi maupun resepsi. Emansipasi wanita dengan demikian merupakan salah satu aspek dalam kaitannya dengan persamaan hak. Dalam ilmu sosial kontemporer lebih dikenal sebagai gerakan kesetaraan jender.
Dalam cerpen yang kami analisis terdapat pada kalimat “Coba kau bayangkan kembali. Seorang gadis desa yang seharusnya pemalu, tahu adat, sopan, duduk disamping seorang laki – laki tidak dikenal di atas bis. Omong – omong sedikit dan sudah pasti tentang hal – hal yang tidak berarti. Lalu ketika hendak berpisah, laki – laki itu bertanya: ’mau kemana?’ Dan gadis itu menjawab dengan tegas:’Ke mana Abang, ke sana aku’. Masya Allah. Tentulah gadis itu gila. Ya tentulah dia itu gila,” kata orang tua itu seraya memandang kepada Hasibuan yang duduk di hadapannya.”Apa kau tidak sadar, gadis itu gila”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar