Selasa, 24 April 2012

Analisis cerpen Seorang Ayah Dan Anak Gadisnya Kumpulan cerpen Jujur Pramanto


TUGAS

Analisis cerpen Seorang Ayah Dan Anak Gadisnya
Kumpulan cerpen Jujur Pramanto

Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Apresiasi Sastra
Dosen Pengampu Adyana Sunanda














Disusun Oleh :
DIYAN SAFITRI
A310080143
                       
                                   
PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2010
BAB 1
PENDAHULUAN

  1. LATARBELAKANG
                  Sastra merupakan hasil cipta atau karya manusia yang dapat dituangkan melalui ekspresi yang berupa tulisan yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya.
Selain itu sastra juga merupakan hasil karya seseorang yang diekspresikan melalaui tulisan yang indah,sehingga karya yang dinikmati mempunyai nilai estetis dan dapat menarik para pembaca untuk menikmatinya. Karya-karya yang indah ini dalam sastra berupa cerpen, puisi, novel dan drama.. Karya-karya yang menarik itu dapat mempengaruhi jiwa para pembaca sehingga dapat menyelami dan seolah-olah hadir dalam cerita tersebut.


  1. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas terdapat satu masalah yang perlu dikaji dalam penelitian ini, yaitu bagaimana menganalisis cerpen yang berjudul Seorang Ayah dan Anak Gadisnya karya jujur pramanto?

  1. TUJUAN
Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis cerpen “Seorang Ayah dan Anak Gadisnya” karya Jujur Pramanto dengan metode analisis struktural dan alalisis makna.








BAB 2
PEMBAHASAN

  1. SINOPSIS
      Seorang anak kecil yang bernama putty yang lahir ditengah-tengah keluarga kecil yang bahagia. Sartono ayah putty yang mempunyai sifat penyabar. Pada saat itu putty selalu saja menangis, dan sartono pun tak bisa menafsirkan makna dari tangisan putty yang bertanda haus atau cuma kegerahan. Sejak putty dilatih mendengar namanya sendiri, ”Putih Melati. Pu-tih Me-la-ti.”
Putty menirunya dengan suara keras, dan Nadia yaitu ibu putty segera memberi asi kepada putty. Sartono tahu itu tak mungkin  tapi dokter sudah mengatakan, dan itu tidak apa-apa.
      Putih melati tak lagi menangis, tapi ibunya  menahan sakit karena gigitan anaknya yang sia-sia mengharapkan air susu. Tak seisap pun. Tak setetespun. Lalu lebih banyak airmata yang jatuh. Sartono tak pernah mutlak memahami apa tangis istrinya itu, sebab segala sesuatu cepat tenggelam dalam suasana kerja suasana sehari-hari yang menghebat. Toh, secara pelan tapi pasti putih melati tumbuh dan mekar, ia tak lagi Cuma bisa menangis dan tertawa tapi juga menangis dan menertawai. Tak Cuma menjerit-jerit tapi juga menjerit-jeritkan sesuatu.
      Dan jeritan itu masih tersisa sampai kini, knalpot mobilnya yang sangaja dirusak agar suara meraung-raung. Langkah kakinya yang menghentak-hentak, memencet bel yang tak pernah kurang dari empat kali.
Sartono melangkah keruang depan. ’masuk! Tidak dikunci.’
Seorang gadis remaja lima belas tahun berkulit kuning, tinggi badan seratus enam puluh limaan, berambut tebal agak pirang. Bercelana jins biru kedodoran, t-strit mungil warna pink berleher lebar lengan pendek. Menghambur kedalam begitu ia menguakkan pintu.
Putty menenggak kopi di meja. ”Ada acara gladi-resik show tari buat besok. Pakai kostum lengkap, sekaligus tes make-up. Kalau make-up tanpa lipstik sama aja bohong,kata putty. Sudah ada sebulan., butik langganan mama ulang tahun. Mereka harga obral. Mama membelikan celana  dengan harga tiga puluh ribuan.
Putty menyuruh ayahnya untuk menonton  di TIM pukul delapan mala. Dan putty pun membelikan karcis kusus buat papanya.
Dan, yang membuat suasana agak senang adalah seonggok bakmi goreng, didepan putty. Sartono sendiri mengambil rokok, menyulut dan mengisapnya pelan, memperhatikan anaknya yang makan dengan lahap. Kalsau seperti ini putty nampak terbebas dari segala pakaian yang mengurungnya. Kembali seperti putty yang bocah, yang rasanya tak terlalu peduli lipstik dibibirnya akan luntur oleh suapan minyak goreng.
      Ini pula yang embedakan ia dengan ibunya. Nadia kelewat anggun, tertatih semenjak kecil untuk selalu menampilkan keanggunan seorang penari. Menari bagio dia bukan Cuma digedung berkesian, tapi bahkan tiap jengkal ia berada adalah bagian dari panggung. Melangkah menuruni anak tangga adalah menari, jemari memutar nomor-nomor telepon adalah menari, samapai pada mengangkat sendok dan garpu , semuanya menjadi tarian-tarian yang tak berkeputusan.
      Lalu santoso hadir sebagai pengagum tari. Pengagum setia tapi juga yang sadr kemudian bahwa pernik-pernik kehidupan rumah tangga tak semuanya bisa diubah jadi tarian indag. Ada realitas baru setelah itu, yamg tak seelok panggung pentas seni. Ada kesenjangan disana, yang selama ini kabur oleh kekaguman –kekaguman membuai. Dan perasaan bahagia, rupanya, tak harus berangkat dari kekaguman atas sesuatu seperti yang dirsakan sartono kini melihat perilaku anaknya yang boleh jadi kurang beraturan.
”Ada apa, Pa, ngiatin putty?”
Sartono tersenyum, lalu mengalihkan pembicaraan. ”Kenapa tidak kamu bikin saja acara di TIM itu sebagai karangan?
Kemarin dulu kamu bilang ada tugas mengarang buat minggu depan, bingung mencari bahan,”
      Tanggal 20 oktober ada festifal kreasi Renaja di TIM. TIM-nya di Graha Bhakti Budaya. One-O-One Alfa kasih tunjuk kemampuan juga. Sambutannya meriah. Saya berangkat dari rumah jam lima sore, Mama sudah berangkat duluan karena panitia. Tidak diantara papaBurhan karena sudah lama tidak pulang. Ke TIM rame-rame naik kombinya Alma. Serulah pokoknya! Seragam kita paling geboy. Kena lampu makin gemerlap. Grup-grup lain pada ngeper liat kita.
Saya mengajak papa ikut nonton. Saya menelpon papa jam setengah delapan, tapi papa tidak ada. Saya menunggu terus tapi papa tidak nongol-nongol! Papa brengsek.
”bahasamu lebih brengsek! Lihat, sambutanyya meriah. Saya berangkat dari rumah... mana yang terjadi lebih dahulu? Mama sudah berangkat dahuluan karena panitia. Panitia ini memperlakukan mama bagaimana, sampai-sampai mama Panitia ini memperlakukan mama bagaimana, sampai-sampai mama berangkat duluan?” ”maksudnya mama mesti pergi duluan , datang lebih awal karena mama termasuk salah satu panitia penyelenggaraan festival ini.
Suatau saat sartono dan putty nonton bioskop bareng, hingga malam tak satupun yang keluar juga taj mungkin tertelan dalam lenyap begitu saja. Tinggal hati dan pikiran yang riuh berfikir, tercermin diwajahnya yang menegang. Lalau corolla 72 warna coklat itu menyusuri jalan jakarta dealam diam, suara kaset-kaset Cuma samar.
Banyak yang berubah, jadinya sering lupa hari. Papa mengajar ditrisakti biasanya jum’at. Jadi ini serasa malam sabtu.
Tiba-tiba sartono bertanya kepada putty ”cowok kamu mama?”
Putty menjawab ”inikan sedang pacaran.” lalu begitu saja putty menyandarkan badan dipaha bapaknya.
”cowok kamu mana ? berli aytau siapa yang makai mobil putih itu?”
Putty menjawab,,nggak tau.”
Kalau yang pakai kijang hijau itu candra, teman main biasa. Kalau yamh ku bilang raksasa dulu? Donald. Payah. Cemburuan. Badan gede kelakuan nol.
Putty mengubah duduknya bersila menghadap kedepan. Dan putty secara sengaja bertanya kepada sartono ayahnya,”kenapa papa sendiri tidak pacaran?”
      Sartono menengok kesamping, kali ini tanpa tawa. Memandang sesaat wajah ayahnya. Cuma sesaat. Tapi yang sesaat ini cukup membuatnya tercekat. Putty sekarang bukan lagi Putih Melati dua tiga tahun yang lalu. Bukan si sableng yang mengatakan serius pa?, hanya akan mengatakan bahwa para guru benar-benar rapat dan ia pulang awal bukan karena membolos (padahal memang membolos!), atau untuk mengatakan putty pusing sekali,,( padahal hanya ingin menghindari pelajaran sejarah!”). Bukan pula putty manja yang yang menjadi benar-benar serius hanya bilang menstruasinyaendatangkan rasa sakit dan merasa dirinya celaka oleh kewanitaannya.
Putty bertanya,kenapa pa?”
      Begitu tajam pertanyaan itu. Begitu menuntut. Putih Melati bukan Cuma serius, tapi telah mrenjadi lebih dewasa. Mungkin juga menloncat menjadi dewasa. Namun paling tidak dengan akan gadisnya sartono harus memberikan jawaban yang paling jujr, sesederhana apapun.
Sartono menjawab,”papa tidak punya pacar.”
”papa tidak kepingin nikah lagi”
”ya, tapi nanti.”
”nanti kapan pa?”
Kelihatannya mama mau cerai sama papa burhan. Setelah urusan pengadilan selesai, mama mau pindah keamerika.
Kali ini sartono terpaksa membelokkan mobuilnya kejalur lambat dan merambat tak lebih dari tiga puluh kilo meter perjam. Memberi kesempatan paru-parunya menghirup udara sedalam-dalamnya.
      Jakarta dimalam minggu tergambar pada jalannya yang riuh, tapi tidak tergesa-gesa. Bis kota- bis kota seperti biasanya penuh, mengangkut orang-orang yang berdandan agak istimewa. Wajah- wajah kuyu diusiang hari berganti dengan muka berkeringatanak-anak kecil yang melongok-longok keluar jendela. Berebut tempat dengan saudaranya .
Putty menggeleng lremah, sartono menarik napas panjang. Lalu denga segan ia mencari tempat pemutaran. Membelokkan mobilnya kekanan, berhenti sesaat tapi,,
Kerumah siapa?
Tak ada jawaban. Balasan sorot lampu mobil dari arah lawan kelewat menyilaukan hingga sartono tak bisa jelas melihat wajah putty. Juga tak bisa menyaksikan setetes air mata yang jatuh membasahi wajah murungnya.



  1. ANALISIS
a.      ANALISIS STRUKTURAL
Analisis dari segi struktur cerpen “Nasihat – Nasihat” meliputi tema, penokohan, alur, latar, sudut pandang, gaya bahasa, dan amanat.
1.      TEMA
mengisahkan tentang kehidupan seorang Ayah yang mempunyai seorang anak gadis yang mempunyai kesengan menari. Tapi dengan adanya masalah diantara Ayah dan Ibu gadis itu, Gadis itu dituntun untuk lebih dewasa dalam mengarungi kehidupan.
2.      LATAR/SETTING
setting dalam cerita ini adalah
a.       rumah
Disini diceritakan bahwa putty lahir ditengah-tengah keluarga kecil.
b.      gedung Grha Bhakti Budaya
disini diceritakan bahwa gedung Grha Bhakti Budaya adalah tempas putty mempertunjukkan tariannya.
c.       kota jakarta
tempat putty dan sartono (Ayah Putty) menghabiskan malam minggu berdua.
3.      PENOKOHAN
·         ayah (Sartono)
seorang laki-laki yang mengasuh anak perempuannya yang bernama putty. Dan ia bekerja sebagai pengajar di Trisakti
·         Putih Melati (putty)
Seorang anak gadis yang mempunyai kesengan menari, mengikuti bakat ibunya yang suka menari. Seorang gadis remaja yang bergaya seperti orang dewasa karena situasi yang menuntutnya harus bersikap dewasa.
·         Nadia (ibu putty)
Seorang ibu yang pekerjaannya sebagai penari, dan ia hidup denga suami keduanya yaitu Burhan. Tapi suatu saat ia pun bercerai dengan Burhan.
4.      ALUR
Alur dalam cerpen berjudul Seorang Ayah Dan Anak Gadisnya ini menggunakan alur lurus. Karena cerita ini berawal dari seorang Ayah yang sangat menyayangi anak gadisnya, dan membesarkan anaknya sendiri karena sudah bercerai dengan istrinya. Setelah anaknya (putty) beranjak dewasa akhirnya ia pun mengerti akan masalh yang dihadapi oleh kedua orangtuanya. Tapi putty bisa menyikapinya dengan dewasa.  
5.      SUDUT PANDANG
Dalam cerpen ini pengarang menggunakan sudut pandang orang ketiga, karena pengarang menceritakan tentang kehidupan orang lain dengan berbagai konflik atau problem yang ada pada masing-masing tokohnya. Hal ini telah terbukti dengan penggunaaan tokoh Ayah, Putty, dan Nadya (Ibu putty).
6.      GAYA BAHASA
Gaya bahasa yang ada pada cerpen Ayah Dan Anak Gadisnya ini menggunakan beberapa majas, contonya pada kalimat ”Bis kota- bis kota seperti biasanya penuh, mengangkut orang-orang yang berdandan agak istimewa” dalam kalimat tersebut jelas menggunakan majas personifikasi. Dan selain itu dalam cerpen ini juga menggunakan bahasa yang menarik
7.      AMANAT
dalam cerita cerpen tersebut mengandung pesan dan amanat yang disampaikan melalui para tokoh-tokohnya.
a.       Tokoh ayah
Dalam cerpen ini ayah memberikan pesan yaitu sebagai seseorang harus tegar dalam menghadapi persoalan. Meskipun hidup serba susah tapi demi seseorang yang sangat kita cintai harus tetap diperjuangkan.
b.      Putty
Dalam cerpen ini Putty memberikan pesan yaitu bahwa sebagai seseorang harus bisa lebih dewasa dalam menyikapi suatu masalah.
c.       Nadya (Ibu Putty)
Dalam cerpen ini Nadya memberikan pesan  yaitu bila meninggalkan seseorang janganlah melupakannya. Karena tanpa kita sadari ternyata orang tersenut sangat berarti dalam hidup kita.
  1. DARI SEGI ANALISIS MAKNA
KESIMPULAN
Analisis makna yang digunakan untuk mengidentifikasi cerpen berjudul Seorang Ayah Dan Anak Gadisnya menggunakan pendekatan psikologis. Dikarenakan faktor psikologis disini lebih kental. Seorang ayah dan anak gadisnya menggambarkan tentang kehidupan sebuah keluarga kecil yang sederhana yang pada suatu saat harus mempunyai problem pada keluarganya dan akhirnya terjadi perbedaan diantara mereka.
Sartono adalah seorang ayah yang baik, ia mendidik anaknya dari kecil hingga dewasa dengan penuh kasih sayang. Tokoh sartono pada cerita ini adalah sebagai seorang laki-laki yang hidup bersama seorang anak gadisnya yang bernama putih melati. Karena didikannya putih melatipun menjadi seorang anak dewasa yang mempunyai bakat menari yang hebat. Sartono yang melihat tumbuh kembang anak gadisnya dari mulai anaknya kecil sampai bisa berdandan. Seorang yang bertanggung jawab tapi ketiaka sartono memperhatikan anaknya, ia tersipu karena belum seharusnya anaknya seperti itu, hanya karena keadaan putty harus bersikap lebih dewasa. Ketika suatu saat putty bertanya kepada Ayahnya, ”kenapa Papa gak pacaran lag?” . pada saat itu putty merasa bahwa hidupnya kurang sempurna. Dan ia menuntut kepada ayahnya untuk segera mempunyai seorang pendampin.
Pada cerita cerpen Seorang Ayah dan Anak Gadisnya ini, si Anak sebenarnya sangat tretakan akan situasi disekitanya, ia mempunyai ayah yang baik muda dan pintar tapi ia masih merasa kurang. Dan ibunya yaitu Nadia, ibunya hidup sendiri dengan ayah tirinya yang bernama Burhan. Dan ia pun tidak terlalu dekat dengan ibunya. Dan pada suatau saat ibunya akan bercerai lagi dengan suami keduanya tersebut. Itu membuat putty menjadi lebih tretekan. Dan ketika ayahnya mengajak jalan-jalan putty . saat itu pula sartono sadar bahwa putty sangatlah merasa kekurangan kasih sayang.




ANALISIS PUISI “KAMI BERTIGA” KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO BERDASARKAN STRATA NORMA


ANALISIS PUISI “KAMI BERTIGA” KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO
BERDASARKAN STRATA NORMA
Disusun guna memenuhi tugas akhir semester mata kuliah Pengkajian Puisi
Dosen Pengampu: Drs. Adyana Sunanda












    Disusun Oleh
Nama        : Diyan Safitri
N I M        : A310080143


PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2010

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Puisi merupakan karya sastra yang memiliki struktur yang sangat kompleks yang terdiri dari beberapa strata (lapis) norma. Masing-masing norma menimbulkan lapis norma di bawahnya, yang dijelaskan oleh Rene Wellek sebagai berikut:
Lapis norma pertama adalah lapis bunyi (sound stratum). Bila orang membaca puisi, maka yang terdengar adalah serangkaian bunyi yang dibatasi jeda pendek, agak panjang, dan panjang. Lapis pertama yang berupa bunyi tersebut mendasari timbulnya lapis kedua yaitu lapis arti (units of meaning), karena bunyi-bunyi yang ada pada puisi bukanlah bunyi tanpa arti.
Rangkaian satuan-satuan arti tersebut menimbulkan lapis ketiga berupa unsur intrinsik dan ekstrinsik puisi, misalnya latar, pelaku, lukisan, objek-objek yang dikemukakan, makna implisit, sifat-sifat metafisis, dunia pengarang dan sebagainya.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas terdapat satu masalah yang perlu dikaji dalam penelitian ini, yaitu bagaimana menganalisis puisi “Kami Bertiga ” karya Sapardi Djoko Damono berdasarkan strata norma?

C.    Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis puisi “Kami Bertiga ” karya Sapardi Djoko Damono berdasarkan strata norma.








BAB II
PEMBAHASAN

KAMI BERTIGA
dalam kamar ini kami bertiga:
aku, pisau dan kata
kalian tahu, pisau barulah pisau kalau ada darah di matanya
tak peduli darahku atau darah kata
1.   Analisis Lapis Pertama (bunyi/ sound stratum)
Pembahasan lapis bunyi hanyalah ditujukan pada bunyi-bunyi yang bersifat istimewa atau khusus, yaitu bunyi-bunyi yang dipergunakan untuk mendapatkan efek puitis atau nilai seni. Ada asonansi serta aliterasi. Asonansi adalah pengulangan bunyi vokal pada sebuah baris yang sama. Sedangkan aliterasi terdiri dari pengulangan bunyi konsonan dari kata-kata yang berurutan serta sajak/rima awal.
Pada baris kedua dan ketiga ada asonansi vokal “a”
“aku, pisau dan kata”
“kalian tahu, pisau barulah pisau kalau ada darah di matanya”
Puisi diatas mempunyai rima/ sajak aa

2.   Analisis Lapis Kedua (arti/ units of meaning)
                 Dalam menganalisis arti, kita berusaha memberi makna pada bunyi, suku kata, kata, kelompok kata, kalimat, bait, dan pada akhirnya makna seluruh puisi.
                        Baris pertama dan kedua” dalam kamar ini kami bertiga, aku, pisau, dan kata” menggambarkan tokoh aku berada di dalam kamar. Di kamar  tersebut ada sebuah pisau dan sebuah kata. Baris ketiga “ kalian tahu pisau barulah pisau kalau ada darah di matanya” artinya menurut tokoh aku pisau baru dikatakan pisau jika ada darah yang menempel di mata pisau tersebut. Baris ketiga ini menceritakan keadaan tokoh aku yang sudah kacau pikirannya sehingga dia mengatakan seperti itu, dia mencoba mempergunakan pisau itu untuk melukai dirinya sendiri. Baris keempat “ tak peduli darahku atau darah kata” artinya tokoh aku tidak peduli dengan dirinya sendiri.

           
3.   Analisis Lapis Ketiga (objek-objek, latar, pelaku, dunia pengarang dan lain-lain)
                 Lapis arti menimbulkan lapis ketiga berupa objek-objek yang dikemukakan latar, pelaku, dunia pengarang, makna implisit, dan metafisis.
            Pada puisi “Kami Bertiga” objek yang dikemukakan adalah pisau, kata dan darah. Pelaku atau tokohnya adalah si aku, sedang latarnya di dalam kamar.
                        Dunia pengarang merupakan dunia atau cerita yang diciptakan penyair di dalam puisinya. Kita dapat menuliskan dunia pengarang dari puisi “Kami Bertiga” sebagai berikut:
                        Tokoh aku berada dalam kamar ditemani dengan pisau dan kata. Kata-kata yang membuat hatinya gelisah, sedih membuat dia ingin menggoreskan pisau tersebut dengan darahnya. Dia tidak peduli dengan dirinya sendiri.
                        Dalam puisi tersebut perasaan-perasaan si aku: gelisah, sedih dan putus asa.
                        Dalam puisi di atas ada pula unsur metafisis yang menyebabkan pembaca berkontemplasi. Unsur tersebut berupa kegundahan tokoh si aku setelah melihat kata yang membuatnya merasa gelisah lalu tokoh aku mencoba mempergunakan pisau yang ada di dalam kamarnya untuk hal yang negatif, yaitu untuk melukai dirinya sendiri.

           




ANALISIS PUISI “HATIKU SELEMBAR DAUN” KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN TEORI STRUKTURAL


ANALISIS PUISI “HATIKU SELEMBAR DAUN”
 KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO
DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN TEORI STRUKTURAL

Disusun guna memenuhi tugas akhir semester mata kuliah “Pengkajian Puisi”
Dosen pengampu: Drs. Adyana Sunanda
Disusun oleh:
Diyan Safitri
A 3100 80 143

PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA DAN SASTRA DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2010
BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Karya sastra merupakan sebuah struktur. Sehingga karya sastra itu merupakan susunan unsur-unsur yang bersistem, yang antara unsur-unsurnya terjadi hubungan yang timbal balik dan saling menentukan. Struktur memiliki tiga ide dasar, yaitu ide kesatuan, ide transformasi dan ide pengaturan diri sendiri (Hawkes, 1978: 16). Pertama, struktur itu merupakan keseluruhan yang bulat, yaitu bagian-bagian yang membentuknya tidak dapat berdiri sendiri di luar struktur itu. Kedua, struktur itu berisi gagasan tranformasi dalam arti bahwa struktur itu tidak statis.
Struktur itu mampu melakukan prosedur transformasional, dalam arti bahan-bahan baru diproses dengan prosedur dan melalui prosedur itu. Ketiga, struktur itu mengatur diri sendiri, dalam arti struktur itu tidak memerlukan pertolongan bantuan dari luar dirinya untuk mensahkan prosedur transformasinya. Setiap unsur mempunyai fungsi tertentu berdasarkan aturan dalam struktur itu. Setiap unsur mempunyai fungsi berdasarkan letaknya.
Karya sastra adalah sebuah struktur yang kompleks. Untuk memahami, karya harus dianalisis (Hill, 1966: 6). Dalam analisis itu, karya sastra diuraikan unsur-unsur pembentuknya. Dengan demikian, makna keseluruhan karya sastra akan dapat dipahami. Analisis struktural puisi adalah analisis puisi ke dalam unsur-unsurnya dan fungsinya bahwa setiap unsur itu mempunyai makna hanya dalam kaitannya dengan unsur-unsur lainnya, bahkan juga berdasarkan tempatnya dalam struktur.
Menurut pikiran strukturalisme, dunia karya sastra merupakan susunan hubungan daripada benda-benda. Sebuah struktur dapat dipahami makna keseluruhannya bila diketahui unsur-unsur pembentuknya dan saling hubungan di antaranya dengan keseluruhannya. Unsur-unsur karya sebagai bagian dari struktur tidak mempunyai makna sendiri. Makna ditentukan oleh hubungannya dengan unsur-unsur lainnya dangan keseluruhan (Hawkes, 1978: 17-18).

B.     RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas penulis menemui  masalah untuk dikaji:
Bagaimana analisis puisi dengan teori struktural?

C.    TUJUAN
Berdasarkan rumusan masalah tersebut penulis mempunyai tujuan:
Mendeskripsikan analisis puisi dengan teori struktural.

D.    MANFAAT
Dalam hal ini penulis memetik beberapa manfaat:
1.      Mengetahui tentang analisis puisi dengan teori struktural.
2.      Untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah “Teori Pengkajian Puisi”.







BAB II
PEMBAHASAN

                                    Analisis struktural puisi adalah analisis puisi ke dalam unsur-unsurnya dan fungsinya bahwa setiap unsur itu mempunyai makna hanya dalam kaitannya dengan unsur-unsur lainnya, bahkan juga berdasarkan tempatnya dalam struktur. Analisis struktural meliputi, struktur fisik dan struktur batin puisi. Struktur fisik (surface structure)  terdiri dari perwajahan puisi (tipografi), diksi, imaji, kata konkret, gaya bahasa, rima dan irama. Sedangkan struktur batin (deep structure) terdiri dari tema (sense), rasa (feeling), nada (tone), dan amanat (intention).
HATIKU SELEMBAR DAUN
hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak berbaring di sini;
ada yang masih ingin ku pandang yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kau sapu tamanmu setiap pagi.

1.    Struktur fisik (surface structure)

a)    Perwajahan puisi (tipografi)
              Perwajahan puisi (tipografi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi. Pada puisi diatas ditulis hanya dengan menggunakan huruf kecil, baik diawal maupun di amal baitnya sehingga puisi ini berbeda dengan puisi yang lain, karena kebanyakan  puisi-puisi yang dibuat memperhatihan kaidah yang berlaku.
              Namun dalam puisi  Hatiku Selembar Daun ini tidak memperhatikan kaidah yang berlaku, dan ini merupakan cirri khas tersendiri dari puisi ini. Selain itu diakhir baid ke-1 sampai tiga menggunakan tanda titik koma dan pada akhir baid keempat diakhiri dengan tanda titik, walaupun di awal tidak menggunakan huruf kapital.
             
b)   Diksi
              Diksi, yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata. Geoffrey (dalam Waluyo, 19987:68-69). Dalam puisi ini penyair memilih kata-kata yang agak mudah dipahami oleh pembaca sehingga pembaca tidak terlalu sulit dalam mengetahui maksud dari puisi ini.

c)    Imaji
              Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, medengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair. Dalam puisi ini pengarang menggunakan imaji penglihatan, tercermin pada bait ke tiga yaitu “ada yang masih ingin ku pandang yang selama ini senantiasa luput.

d)   Kata konkret
              Kata kongkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Misal kata kongkret “salju: melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dll., sedangkan kata kongkret “rawa-rawa” dapat melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan, dll. Dalam hal ini terwujud pada bait pertama yaitu “hatiku selembar daun dan melayang jauh di rumput.

e)    Gaya bahasa
            Gaya bahasa, yaitu bahasa berkias yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu (Soedjito, 1986:128). Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna (Waluyo, 1987:83). Gaya bahasa disebut juga majas. Adapaun macam-amcam majas antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks. Dalam hal ini penyair menggunakan gaya bahasa personifikasi, terwujut pada bait pertama yaitu “hatiku selembar daun melayang jauh di rumput”

f)    Rima dan irama
              Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Sedangkan irama adalah lagu kalimat yang digunakan penyair dalam mengapresiasikan puisinya. Dalam puisi ini penyair menggunakan rima ab-ab dan menggunakan irama yang menunjukkan penyesalan.

2.    Struktur batin (deep structure)
a)    Tema (sense)
              Tema/makna (sense); media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan. Dalam puisi ini penyair mengangkat tema tentang keagamaan yaitu orang yang telah lupa akan kewajibannya untuk beribadah. Terbukti pada bait terakhir yaitu “sesaat adalah abadi sebelum kau sapu tamanmu setiap pagi.

b)   Rasa (feeling)
              Rasa (feeling), yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Dalam hal ini penyair merasakan penderitaan akibat ulahnya sendiri. Ia telah lupa akan kewajibannya untuk beribadah kepada Allah. Sehingga ia mengalami sakarotul maut yang sangat sulit.

c)    Nada (tone)
              Nada (tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dll. Penyair menuangkan penderitaan yang dialaminya kepada pembaca dengan nada penyesalan karena telah menyia-nyiakan waktunya dengan berbuat dosa dan lupa akan kewajibannya untuk beribadah kepada Alah.

d)   Amanat (intention)
              Pesan pengarang yang terkandung di dalam puisi untuk pembaca. Pengarang mengingatkan kepada pembaca akan kecilnya manusia dimata Allah.Oleh karenaitu pengarang berpesan kepada pembaca untuk menggunakan waktu sebaik mungkin di dunia ini, bersyukur apabila mendapatkan rahmat dari Allah dan selalu beribadah dan berbuat baik sebelum ajal menjemput.


ANALISIS PUISI “BUNGA, 3” KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN STRATA NORMA


Senin, 02 Mei 2011

ahhha

terimakasih Tuhan . .
engkau telah menganugerahkan sesosok pria yang biasa namun sangat luar biasa bagiku . .
seorang pangeran yang aku tak bisa membayangkan sebesar apa cintanya untukku . .
i love you and i miss you forever . . .

dengan. . .

dengan cinta ini aku jadi kuat . .
dengan cinta ini keyakinan itu kini menjadi nyata. . .
dengan cinta ini aku menjadi hidup. . .
dengan cinta ini aku masih bisa bertahan. .
walau rapuh tapi dengan cinta ini aku jadi kuat dan tegar . .
terima kasih cinta,, dan aku akan selalu menjaga hati ini untuk selalu mencintaimu cintaku . . .